Selasa, 24 Januari 2012

Hukum Berdo'a dengan Tawassul

Hukum Berdo'a dengan Tawassul
Oleh: Dewan Asatidz
Pengertian Tawassul
Pemahaman tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat islam selama
ini adalah bahwa Tawassul adalah berdoa kepada Allah melalui suatu
perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui
orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah.
Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT.
• Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah menjadikan
perantaraan berupa sesuatu yang dicintainya dan dengan berkeyakinan
bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut.
• Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya
kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya da. Jika ia
berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT
itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan
perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot
sesungguhnya hanyalah Allah semata.
• Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa. Banyak sekali cara
untuk berdo'a agar dikabulkan Allah, seperti berdoa di sepertiga malam
terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan mendahuluinya dengan
bacaan alhamdulillah dan sholawat dan meminta doa kepada orang sholeh.
Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar do'a yang kita
panjatkan diterima dan dikabulkan Allah s.w.t. Dengan demikian, tawasul
adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan.
Tawassul dengan amal sholeh kita
Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul terhadap Allah SWT dengan
perantaraan perbuatan amal sholeh, sebagaimana orang yang sholat, puasa,
membaca al-Qur’an, kemudian mereka bertawassul terhadap amalannya
tadi. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih
yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa,
yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap
kedua orang tuanya, yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas
perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada
kesempatan untuk melakukannya dan yang ketiga bertawassul kepada Allah
SWT atas perbuatannya yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang
lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan
jalan keluar bagi mereka bertiga.. (Ibnu Taimiyah mengupas masalah ini
secara mendetail dalam kitabnya Qoidah Jalilah Fii Attawasul Wal wasilah hal
160)
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
2
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
Tawassul dengan orang sholeh
Adapun yang menjadi perbedaan dikalangan ulama’ adalah bagaimana
hukumnya tawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan
seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai amrtabat dan derajat
tinggi dei depan Allah. sebagaimana ketika seseorang mengatakan : ya Allah
aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad atau Abu bakar
atau Umar dll.
Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Pendapat mayoritas
ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh.
Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan
tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang
mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang),
pada intinya adalah tawassul pada amal perbuatannnya, sehingga masuk
dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’.
Dalil-Dalil Tentang Tawassul
Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung
dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat
tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Dan secara otomatis
pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga
dengan permasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa
tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang diperbolehkannya
tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut:
A. Dalil dari alqur’an.
1. Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah, 35 :

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan
yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya
kamu mendapat keberuntungan."
Suat Al-Isra', 57:
 - ! - " # !$%& # ! %' ( - !)- * + - % %)! , !- .%/ # !0%. ! 1%2 + # !3 4 ! $ "#- - $  * + # 5 6+ ! %7
17.
57. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada
Tuhan mereka [857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)
dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya
azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [857] Maksudnya: Nabi
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
3
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
Isa a.s., para malaikat dan 'Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan
mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Lafadl Alwasilah dalam ayat ini adalah umum, yang berarti mencakup
tawassul terhadap dzat para nabi dan orang-orang sholeh baik yang masih
hidup maupun yang sudah mati, ataupun tawassul terhadap amal perbuatan
yang baik.
2. Wasilah dalam berdoa sebetulnya sudah diperintahkan sejak jaman
sebelum Nabi Muhammad SAW. QS 12:97 mengkisahkan saudara-saudara
Nabi Yusuf AS yang memohon ampunan kepada Allah SWT melalui perantara
ayahandanya yang juga Nabi dan Rasul, yakni N. Ya'qub AS. Dan beliau
sebagai Nabi sekaligus ayah ternyata tidak menolak permintaan ini, bahkan
menyanggupi untuk memintakan ampunan untuk putera-puteranya (QS
12:98).
% ! / ن %. 9% % !ن:! "ن " !5 ;
.خ = / > % .! 9% % %)!? @ * + ! "ن !A +! !9 % )! 2."
97. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami
terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
bersalah (berdosa)".
98. N. Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada
Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang".
Di sini nampak jelas bahwa sudah sangat lumrah memohon sesuatu kepada
Allah SWT dengan menggunakan perantara orang yang mulia kedudukannya
di sisi Allah SWT. Bahkan QS 17:57 dengan jelas mengistilahkan "ayyuhum
aqrabu", yakni memilih orang yang lebih dekat (kepada Allah SWT) ketika
berwasilah.
3. Ummat Nabi Musa AS berdoa menginginkan selamat dari adzab Allah SWT
dengan meminta bantuan Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT
untuk mereka. Bahkan secara eksplisit menyebutkan kedudukan N. Musa AS
(sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT) sebagai wasilah terkabulnya doa
mereka. Hal ini ditegaskan QS 7:134 dengan istilah
(perantaraan) sesuatu yang diketahui Allah ada pada sisimu (kenabian).
Demikian pula hal yang dialami oleh Nabi Adam AS, sebagaimana QS 2:37
1- &- $ B & -$Dengan
(" 3 C! D - - * +" FE 1- 5 - 3 - % $ ! "ن !A -! " " )! 2."
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
4
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
"Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka
Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang."Kalimat yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan
oleh ahli tafsir berdasarkan sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi
Muhammad SAW, yang sekalipun belum lahir namun sudah dikenalkan
namanya oleh Allah SWT, sebagai nabi akhir zaman.
4. Bertawassul ini juga diajarkan oleh Allah SWT di QS 4:64 bahkan dengan
janji taubat mereka pasti akan diterima. Syaratnya, yakni mereka harus
datang ke hadapan Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT di
hadapan Rasulullah SAW yang juga mendoakannya.
% %+ - E= ! "+ "G- H I! - -#%:-J- - K % %)! "ن : % !1 "L %)! M!9 ن N! O 0B % .! 9% % 3 K . 9% % )! ! =! ! ." % &! 0
K 6 " 61 -2"+
"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan
seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya
datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
B. Dalil dari hadis.
a. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW sebelum lahir
Sebagaimana nabi Adam AS pernah melakukan tawassul kepada nabi
Muhammad SAW. Imam Hakim Annisabur meriwayatkan dari Umar berkata,
bahwa Nabi bersabda :
= / = +
( P
$ )
&17 1 ( .9S = 3
( خ B& U 49 ن @K 3 2 + U W3+ ( + U .3 ( $ ) ئ / Y. W ? G G

&17 = +
U 1 W3   ن ) T Z ( 1 G [2 R 4 = 3
CD ن [ 2V R 4 @ \ ( $D 7 & 3 F. 9S \ = G &17
B+& M1 77 P ]
"Rasulullah s.a.w. bersabda:"Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia
berkata Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad
agar Kau ampuni diriku". Lalu Allah berfirman:"Wahai Adam, darimana
engkau tahu Muhammad padahal belum aku jadikan?" Adam menjawab:"Ya
Tuhanku ketika Engkau ciptakan diriku dengan tanganMu dan Engkau
hembuskan ke dalamku sebagian dari ruhMu, maka aku angkat kepalaku
dan aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis "Laailaaha illallaah
: 1 >. / CD I4 = / : ( + ! ( ن Q R 7 : CD T 5 H U 3+ &17 ) خ = / : ( +   نV 1 : U/& P ) خ 0. خ )5 7 ( 3: 2 ^: 615)
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
5
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
muhamadun rasulullah" maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan
mencantumkan sesuatu kepada namaMu kecuali nama mahluk yang paling
Engkau cintai". Allah menjawab:"Benar Adam, sesungguhnya ia adalah
mahluk yang paling Aku cintai, bredoalah dengan melaluinya maka Aku telah
mengampunimu, dan andaikan tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku
menciptakanmu"
Imam Hakim berkata bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanadnya.
Demikian juga Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail Annubuwwah, Imam
Qostholany dalam kitabnya Almawahib 2/392 , Imam Zarqoni dalam
kitabnya Syarkhu Almawahib Laduniyyah 1/62, Imam Subuki dalam
kitabnya Shifa’ Assaqom dan Imam Suyuti dalam kitabnya Khosois
Annubuwah, mereka semua mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih.
Dan dalam riwayat lain, Imam Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas
dengan redaksi :
G 3 &17 U خ CD G _ G +
Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih segi sanad, demikian juga
Syekh Islam Albulqini dalam fatawanya mengatakan bahwa ini adalah
shohih, dan Syekh Ibnu Jauzi memaparkan dalam permulaan kitabnya
Alwafa’ , dan dinukil oleh Ibnu Kastir dalam kitabnya Bidayah Wannihayah
1/180.
Walaupun dalam menghukumi hadis ini tidak ada kesamaan dalam
pandangan ulama’, hal ini disebabkan perbedaan mereka dalam jarkh
wattta’dil (penilaian kuat dan tidak) terhadap seorang rowi, akan tetapi
dapat diambil kesimpulan bahwa tawassul terhadap Nabi Muhammad SAW
adalah boleh.
) 0. خ )5 7 ( 3 B+& M1 ] 2 : ^ :615)
b. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam masa hidupnya.
Diriwatyatkan oleh Imam Hakim :
$ # 1`$ T 2 = / UW1 = +
( P
$ ) ab0 c0+ .. ض
? e3 -A: a. f \ = 3
$ )
  ' &17 @' ن 12. &17 ( ن 0 ( + ( _ 3 ( $ k. f \ ) W9 ش @K 3
: = + ! g ( & ئ / & / R ش @ $ = 3 = + : : U ئ i Z 1 Q ض 3 ) ث c P W5+ ) ث c / : ) ( ن Q 0
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
6
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
( W9 ش ( 3 ( M9 ن\ = / # 1`$
نQ5 ) ? .
Dari Utsman bin Hunaif: "Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang
kepada Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai
orang yang menuntunku dan aku merasa berat" Rasulullah berkata"Ambillah
air wudlu, lalu beliau berwudlu dan sholat dua rakaat, dan berkata:"bacalah
doa (artinya)" Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu dan menghadap
kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad
sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu
agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku
syafaat". Utsman berkata:"Demi Allah kami belum lagi bubar dan belum
juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar
bugar". (Hadist riwayat Hakim di Mustadrak)
Beliau mengatakan bahwa hadis ini adalah shohih dari segi sanad walaupun
Imam Bukhori dan Imam Muslim tidak meriwayatkan dalam kitabnya. Imam
Dzahabi mengatakatan bahwa hadis ini adalah shohih, demikian juga Imam
Turmudzi dalam kitab Sunannya bab Daa’wat mengatakan bahwa hadis ini
adalah hasan shohih ghorib. Dan Imam Mundziri dalam kitabnya Targhib
Wat-Tarhib 1/438, mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam
Nasai, Ibnu Majah dan Imam Khuzaimah dalam kitab shohihnya.
:
3 /.9 G =; l& 7 ( 2 c خD c 0.
) .ض 0. خ )5 7 ( 3 B+& M1 (
c. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW setelah meninggal.
Diriwayatkan oleh Imam Addarimi :
$ ( bm _ n & '$
= /
: o 7/ cA &1 I7/ && ش ? e3 ( e ئ $ U 3
:
. p ن .' / @' W0 3 5 ( b 1 M ( 2 G # ? b 1 M T = / :
W93 . I13 .I ( 2 U ' ن [ eW U 1 c q ( 2 o 9 )7 M @1 M3 C $
R 9
Dari Aus bin Abdullah: "Sautu hari kota Madina mengalami kemarau
panjang, lalu datanglah penduduk Madina ke Aisyah (janda Rasulullah
s.a.w.) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: "Lihatlah
kubur Nabi Muhammad s.a.w. lalu bukalah sehingga tidak ada lagi atap yang
menutupinya dan langit terlihat langsung", maka merekapun melakukan itu
kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta
pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk" (Riwayat Imam Darimi)
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori :
) 0. خ C q ( +& ] 1 : ^ : 43)
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
7
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
$ g ن # .1$ - I خ # 5 : 7I/ ( M n 'W & '$ [ I1 = 3
:
) ن 5 c ن ' M 3 ن c ن ) W ' ن 3 = /
:
M 3#
Riwayat Bukhari: dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika
menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin
Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:"Ya Tuhanku sesungguhkan kami
bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah
hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlau
hujan kepada, lalu turunlah hujan.
d. Nabi Muhammad SAW melakukan tawassul .
) 0. خ C q k+ 4' ( 3 7 7 P ] 1 : ^:137 )
$ ( & W r+ 7 = /
= 3
b + G W1 \ U0. خ b I4 ش b ض. Q Q3 # ( ن W + \ # . 9
( ( ن:\ ن G . 9 - ن G U ن \ c '/ 0 .9 # W' T
0 &12 1t2 ) W ن (
Dari Abi Said al-Khudri: Rasulullah s.a.w. bersabda:"Barangsiapa keluar dari
rumahnya untuk melaksanakan sholat, lalu ia berdoa: (artinya) Ya Allah
sesungguhnya aku memintamu melalui orang-orang yang memintamu dan
melalui langkahku ini, bahwa aku tidak keluar untuk kejelekan, untuk
kekerasan, untuk riya dan sombong, aku keluar karena takut murkaMu dan
karena mencari ridlaMu, maka aku memintaMu agar Kau selamatkan dari
neraka, agar Kau ampuni dosaku sesungguhnya tiada yang mengampuni
dosa kecuali diriMu", maka Allah akan menerimanya dan seribu malaikat
memintakan ampunan untuknya". (Riwayat Ibnu Majad dll.).
Imam Mundziri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu
Majah dengan sanad yang ma'qool, akan tetap Alhafidz Abu Hasan
mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan.( Targhib Wattarhib 2/ 119).
Alhafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan dan
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Abu Na’im dan Ibnu
Sunni.(Nataaij Alafkar 1/272).
Imam Al I’roqi dalam mentakhrij hadis ini dikitab Ikhya’ Ulumiddin
mengatakan bahwa hadis ini adalah hasan, (1/323).
Imam Bushoiri mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu
Khuzaimah dan hadis ini shohih, (Mishbah Alzujajah 1/98).
: = +
( P
$ )
: ]. خ ( is f \: ) ( ن Q R 7 ئ M $ R 7 k e1 A ( نJ 3 ) ]. خ . ش G . I G ) 0. خ .(
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
8
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
Pandangan Para Ulama’ Tentang Tawassul
Untuk mengetahui sejauh mana pembahasan tawassul telah dikaji para
ulama, ada baiknya kita tengok pendapat para ulama terdahulu. Kadang
sebagian orang masih kurang puas, jika hanya menghadirkan dalil-dalil
tanpa disertai oleh pendapat ulama’, walaupun sebetulnya dengan dalil
saja tanpa harus menyartakan pendapat ulama’ sudah bisa dijadikan
landasan bagi orang meyakininya. Namun untuk lebih memperkuat
pendapat tersebut, maka tidak ada salahnya jika disini dipaparkan
pandangan ulama’ mengenai hal tersebut.
Pandangan Ulama Madzhab
Pada suatu hari ketika kholifah Abbasiah Al-Mansur datang ke Madinah dan
bertemu dengan Imam Malik, maka beliau bertanya:"Kalau aku berziarah ke
kubur nabi, apakah menghadap kubur atau qiblat? Imam Malik
menjawab:"Bagaimana engkau palingkan wajahmu dari (Rasulullah) padahal
ia perantaramu dan perantara bapakmu Adam kepada Allah, sebaiknya
menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaat maka Allah akan
memberimu syafaat". (Al-Syifa' karangan Qadli 'Iyad al-Maliki jus: 2 hal:
32).
Demikian juga ketika Imam Ahmad Bin Hambal bertawassul kepada Imam
Syafi’i dalam doanya, maka anaknya yang bernama Abdullah heran seraya
bertanya kepada bapaknya, maka Imam Ahmad menjawab :"Syafii ibarat
matahagi bagi manusia dan ibarat sehat bagi badan kita"
)
Demikian juga perkataan imam syafi’i dalam salah satu syairnya:
&A ش R 7 T c $ 1 ( ن ' ^ 166 : )
= (' ( W+:
0+ ) (I$ &S
# )A ( # k& 1 ( 9 7 P
(
"Keluarga nabi adalah familiku, Mereka perantaraku kepadanya
(Muhammad), aku berharap melalui mereka, agar aku menerima buku
perhitunganku di hari kiamat nanti dengan tangan kananku"
Pandangan Imam Taqyuddin Assubuky
Beliau memperbolehkan dan mengatakan bahwa tawassul dan isti’anah
R P W /.71 & 12V ._2 ( ?1 ^:180)
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
9
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
adalah sesuatu yang baik dan dipraktekkan oleh para nabi dan rosul,
salafussholeh, para ulama,’ serta kalangan umum umat islam dan tidak ada
yang mengingkari perbuatan tersebut sampai datang seorang ulama’ yang
mengatakan bahwa tawassul adalah sesuatu yang bid’ah. (Syifa’ Assaqom
hal 160)
Pandangan Ibnu Taimiyah
Syekh Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya memperbolehkan tawassul
kepada nabi Muhammad SAW tanpa membedakan apakah Beliau masih
hidup atau sudah meninggal. Beliau berkata : “Dengan demikian,
diperbolehkan tawassul kepada nabi Muhammad SAW dalam doa,
sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi :
# @' ) $ f4 ش # =
( ن 0 ( + ( _ 3 ( 0 2 Z W9 e3 @K 3
Rasulullah s.a.w. mengajari seseorang berdoa: (artinya)"Ya Allah
sesungguhnya aku meminta kepadaMu dan bertwassul kepadamu melalui
nabiMu Muhammad yang penuh kasih, wahai Muhammad sesungguhnya aku
bertawassul denganmu kepada Allah agar dimudahkan kebutuhanku maka
berilah aku sya'faat". Tawassul seperti ini adalah bagus (fatawa Ibnu
Taimiyah jilid 3 halaman 276)
: ) ( ن Q c ' &17 @' ن 12. &17 ) 0. خ k . 77 P .(
Pandangan Imam Syaukani
Beliau mengatakan bahwa tawassul kepada nabi Muhammad SAW ataupun
kepada yang lain ( orang sholeh), baik pada masa hidupnya maupun
setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para shohabat.
Pandangan Muhammad Bin Abdul Wahab.
Beliau melihat bahwa tawassul adalah sesuatu yang makruh menurut
jumhur ulama’ dan tidak sampai menuju pada tingkatan haram ataupun
bidah bahkan musyrik. Dalam surat yang dikirimkan oleh Syekh Abdul
Wahab kepada warga qushim bahwa beliau menghukumi kafir terhadap
orang yang bertawassul kepada orang-orang sholeh., dan menghukumi kafir
terhadap AlBushoiri atas perkataannya YA AKROMAL KHOLQI dan membakar
dalailul khoirot. Maka beliau membantah : “ Maha suci Engkau, ini adalah
kebohongan besar. Dan ini diperkuat dengan surat beliau yang dikirimkan
kepada warga majma’ah ( surat pertama dan kelima belas dari kumpulan
surat-surat syekh Abdul Wahab hal 12 dan 64, atau kumpulan fatwa syekh
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
10
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
Abdul Wahab yang diterbitkan oleh Universitas Muhammad Bin Suud Riyad
bagian ketiga hal 68)
Dalil-dalil yang melarang tawassul
Dalil yang dijadikan landasan oleh pendapat yang melarang tawassul adalah
sebagai berikut:
1. Surat Zumar, 2:
- " - ! *& !u- 4% - " ! 4" - - -ن D! b % !A&! !'%W ن%) " ن ! .* ! ( " ( 9% m! #" " )! !?%7 %)! % @ 3 %)!A 3
# !9- %4 "#- " r-&% % !A v--: 5 v+"9 5
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan
orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada
Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di
antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya
Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
Orang yang bertwassul kepada orang sholih maupun kepada para kekasih
Allah, dianggap sama dengan sikap orang kafir ketika menyembah berhala
yang dianggapnya sebuah perantara kepada Allah.
Namun kalau dicermati, terdapat perbedaan antara tawassul dan ritual
orang kafir seperti disebutkan dalam ayat tersebut: tawassul semata dalam
berdoa dan tidak ada unsur menyembah kepada yang dijadikan tawassul ,
sedangkan orang kafir telah menyembah perantara; tawassul juga dengan
sesuatu yang dicintai Allah sedangkan orang kafir bertwassul dengan berhala
yang sangat dibenci Allah.
2. Surah al-Baqarah, 186:
: -   Q rD- '-$ @* $ @*نJ 3 v[ . / [! 0 ! i %$D H &" : $D # % !' %M % 3 @ % ! %w! % @ %)! " W # &! ! ش%.
2. 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan
permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Allah Maha dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaNya. Jika
Allah maha dekat, mengapa perlu tawassul dan mengapa memerlukan sekat
antara kita dan Allah.
Namun dalil-dalil di atas menujukkan bahwa meskipun Allah maha dekat,
berdoa melalui tawassul dan perantara adalah salah satu cara untuk berdoa.
Banyak jalan untuk menuju Allah dan banyak cara untuk berdoa, salah
satunya adalah melalui tawassul.
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
11
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
3. Surat Jin, ayat 18:
"# &-0 M 1% - " - 3 !$%& x - " 6& 2
72. 18. Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka
janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping
(menyembah) Allah.
Kita dilarang ketika menyembah dan berdoa kepada Allah sambil
menyekutukan dan mendampingkan siapapun selain Allah.
Seperti ayat pertama, ayat ini dalam konteks menyembah Allah dan
meminta sesuatu kepada selain Allah. Sedangkan tawassul adalah meminta
kepada Allah, hanya saja melalui perantara.
Kesimpulan
Tawassul dengan perbuatan dan amal sholeh kita yang baik diperbolehkan
menurut kesepakatan ulama’. Demikian juga tawassul kepada Rasulullah
s.a.w. juga diperboleh sesuai dalil-dalil di atas. Tidak diragukan lagi bahwa
nabi Muhammad SAW mempunyai kedudukan yang mulia disisi Allah SWT,
maka tidak ada salahnya jika kita bertawassul terhadap kekasih Allah SWT
yang paling dicintai, dan begitu juga dengan orang-orang yang sholeh.
Selama ini para ulama yang memperbolehkan tawassul dan melakukannya
tidak ada yang berkeyakinan sedikitpun bahwa mereka (yang dijadikan
sebagai perantara) adalah yang yang mengabulkan permintaan ataupun
yang memberi madlorot. Mereka berkeyakinan bahwa hanya Allah lah yang
berhak memberi dan menolak doa hambaNya. Lagi pula berdasarkan hadishadis
yang telah dipaparkan diatas menunjukakn bahwa perbuatan tersebut
bukan merupakan suatu yang baru dikalangan umat islam dan sudah
dilakukan para ulama terdahulu. Jadi jikalau ada umat islam yang
melakukan tawassul sebaiknya kita hormati mereka karena mereka tentu
mempunyai dalil dan landasan yang cukup kuat dari Quran dan hadist.
Tawassul adalah masalah khilafiyah di antara para ulama Islam, ada yang
memperbolehkan dan ada yang melarangnya, ada yang menganggapnya
sunnah dan ada juga yang menganggapnya makruh. Kita umat Islam harus
saling menghormati dalam masalah khilafiyah dan jangan sampai saling
bermusuhan. Dalam menyikapi masalah tawassul kita juga jangan mudah
terjebak oleh isu bid'ah yang telah mencabik-cabik persatuan dan ukhuwah
kita. Kita jangan dengan mudah menuduh umat Islam yang bertawassul
telah melakukan bid'ah dan sesat, apalagi sampai menganggap mereka
menyekutukan Allah, karena mereka mempunyai landasan dan dalil yang
kuat. Tidak hanya dalam masalah tawassul, sebelum kita mengangkat isu
www.pesantrenvirtual.com http://imamsutrisno.blogspot.com
12
J u n e 1 6 , 2 0 0 7
bid'ah pada permasalahan yang sifatnya khilafiyah, sebaiknya kita membaca
dan meneliti secara baik dan komprehensif masalah tersebut sehingga kita
tidak mudah terjebak oleh hembusan teologi permusuhan yang sekarang
sedang gencar mengancam umat Islam secara umum.
Memang masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang muslim awam
dalam melakukan tawassul, seperti menganggap yang dijadikan tawassul
mempunyai kekuatan, atau bahkan meminta-minta kepada orang yang
dijadikan perantara tawassul, bertawassul dengan orang yang bukan sholeh
tapi tokoh-tokoh masyarakat yang telah meninggal dunia dan belum tentu
beragama Islam, atau bertawassul dengan kuburan orang-orang terdahulu,
meminta-minta ke makam wali-wali Allah, bukan bertawassul kepada para
para ulama dan kekasih Allah. Itu semua tantangan dakwah kita semua
untuk kita luruskan sesuai dengan konsep tawassul yang dijelaskan dalildalil
di atas.
Wallahu a'lam bissowab
Penyusun:
Ustadz Agus Zainal Arifin, Hiroshima
Ustadz Muhammad Niam, Islamabad
Ustadz Ulin Niam Masruri, Islamabad

Salam,

Mbah Yunos Muhammad